SEPEDA CITRA
Karya : Ganjar Purnama
Pemandangan indah terlihat dari jendala dalam kelas, ketika itu masih waktu istirahat pertama disekolah, Aku menengok kiri kanan terlihat seperti orang yang kebingungan, yang mungkin Aku pikir adalah ulangan mata pelajaran fisika nanti jam ke-tujuh, lima menit aku terdiam, rasa-rasanya aku ingin ke kantin untuk makan nasi bungkus buatan Bu Yati, tapi apa daya, uang saku yang diberikan Ibuku sudah lenyap diambil Hendra si tukang palak, bukannya aku tak berani melawannya, tetapi hendra menjadi seperti itu juga bisa dibilang gara-gara masalah ku dengannya dulu. Waktu istirahat pun selesai, sekarang waktunya pelajaran kimia, entah mengapa aku merasa takut dalam pelajaran kimia ini, mungkin karena gurunya yang sedikit menyeramkan, dan karena ulahku kemarin bekerja ketika ulangan kimia ketauan oleh beliau, setiap gerak gerikku pasti dilihat olehnya, entah dia membenciku karena ulahku atau gerakanku yang membuat perhatian.
Jam ke-lima dan enam pun selesai, waktunya pelajaran fisika yang sudah ditunggu-tunggu sejak istirahat, untungnya tadi malam aku sudah belajar dan sekarang mungkin sudah siap untuk mengerjakan soal ulangan. Guru fisikaku bernama Pak Abdul, beliau sering dikatakan “guru killer” oleh teman-teman ku yang lain, bukan hanya menurut mereka saja, tetapi juga menurutku. Pak Abdul mulai membagikan soal ulangannya, entah mengapa aku risih dengan orang yang duduk dibelakangku, ya setiap ulangan fisika Hendra selalu duduk dibelakangku, mungkin menurutnya, akulah orang yang paling pintar pelajaran fisika. Ketika aku mengerjakan soal ulangan, Hendra menendang pelan kekaki kursiku yang bagian belakang sambil berbicara dengan sangat pelan, “nomor lima han, nomor lima…” bisiknya dengan sangat pelan, “B… B… “ bisikku sambil balik badan seperti orang yang sedang senam.
Akhirnya ulangan pun selesai, aku sangat lega hati karena bisa mengerjakan soal ulangan dengan sangat mudah, aku bergegas kekantin karena perut sudah lapar karena belum makan dari pagi, untungnya aku menemukan uang sisa kemarin ditasku, ketika aku ingin membeli nasi diwarung Bu Yati, Hendra mempergokiku dan menarikku kebelakang kantin, “katanya lu udah nyerahin semua uanglu ke gua! Ini buktinya apa!! Lu malah jajan dikantin!” dengan nada keras Hendra berbicara kepadaku, “ampun dra, ini uang aku boleh nemu ditas sisa kemaren” sambil memelas berbicara ke Hendra, “hey! Ngapainlu!” terdengar suara perempuan berteriak kearahku dan Hendra, Hendrapun lari tetapi aku tetap ditempat karena takut untuk mengikuti Hendra dan nantinya malah dipukulinya. Perempuan itu datang menghampiriku, “lu gapapakan!” dengan nada kaya preman dia berbicara kepadaku, “gapapa kok, ngomong-ngomong makasih ya” ucapku sambil menjulurkan tangan, “selow aja kali” ucapnya sambil menjabat tanganku, dia pun pergi menjauhi ku, hal tersebut yang membuatku tertarik padanya, akupun bertanya keteman-teman dikelasku, ternyata namanya Citra anak kelas IX C yang pernah menjadi juara pencak silat mewakili Provinsi.
Bel pulangpun berbunyi, semua anak pulang kerumahnya masing-masing, ketika aku keluar pintu gerbang sekolah terlihat seorang perempuan yang sepertinya kebingungan menengok kekanan dan kiri, “nungguin siapa Cit?” tanyaku sok kenal, “lagi nungguin jemputan nih, tapi kayaknya gak dating deh, ngomong-ngomong kok lu tau nama gua?” jawabnya sambil menatap aneh dengan tatapan tajam, “iya, tadi nanya sama temen kelas, pulang jalan kaki aja yok?” jawabku sambil mengajak dengan mengayunkan tangan kearah Citra, “yaudahlah, dari pada lama nungguin jemputan yang gak jelas datengnya”katanya sambil melangkah kearahku. Dalam perjalanan kami saling berbincang tentang semua kejadian yang berlangsung ketika istirahat kedua itu, pantas saja dia berani teriak-teriak tadi, secarakan dia juara pencak silat, dan kabar baiknya dia tinggal dikomplek sebelah.
Keesokan harinya, dengan semangat akupun mandi lebih awal dari biasanya, “Farhan, kok tumben mandi jam segini? Biasanya mandi siangan” kata Ibu keheranan sambil mengetuk pintu kamar mandi, “Ada tugas yang aku kerjain bu! Jadi pengen buru-buru berangkat ini!” kataku sambil berbohong, “oohh,! Dasar jadi anak kok gak pernah ngerjain PR!” kata ibu sambil memukul keras pintu kamar mandi. Setelah mandi, pakai pakaian tidak lupa pakai minyak wangi yang dibelikan ayah, apalagi uang sakunya. Seperti biasa, aku berangkat jalan kaki kesekolah karena jarak dari rumah kesekolah tidak terlalu jauh. Ketika lewat komplek sebelah, aku melihat Citra naik sepeda dan akupun memanggilnya, “Cit! Citra!!” teriakku sambil melambaikan tangan, “eh Farhan, baru berangkat lu Han?” katanya sambil menggoes sepeda kearahku, “iya nih, sepeda baru ya?” tanyaku basa-basi, “iyanih baru dibeliin ayah kemaren, boncengan aja yok?!” katanya asmbil memukul bangku untuk boncengan, “boleh-boleh, tapi aku yang bawa ya, masa cowok yang diboncengin?” kataku sambil tertawa kecil. Kami pun pergi kesekolah seperti pasangan kekasih tahun 90-an, bukan hanya keahliannya dalam bidang bela diri, tapi boleh kuakui bahwa dirinya itu cantik.
Dalam perjalanan aku melihat Hendra terlihat heran kearahku dan Citra, mungkin Hendra suka dengan Citra, tapi masa bodo aku tidak peduli. Kamipun sampai disekolah dan saling memberi salam perpisahan untuk pergi kekelas masing-masing. Seperti biasa, Hendra selalu tidak jelas kapan dia sampai disekolah, dan tradisinya yaitu mencegatku didepan pintu kelas, “kok lu deket-deket sama tu cewek? Awas lu jangan deket-deketin cewek itu, cewek itu punya gua! ngerti?!” kata hendra dengan mata melotot kearahku, “ii..i..iyaa Dra” kataku sambil menunduk kebawah. Ketika pulang sekolah aku tidak menunggu Citra dulu, melainkan langsung pulang karena takut dengan ancaman dari Hendra. “Han! Kok lu ninggalin gua sih?” teriakan Citra dari jauh sambil menggoes sepedanya kearahku, “maaf Cit, tadi aku diancem sama Hendra, katanya gak boleh deket-deket sama kamu lagi” jawabku dengan jujur, “sialan tuh orang, seneng amat cari perkara dah. Yaudah tenang aja Han, gausah minder sama gua, orang itu biar gua yang urusin” kata Citra dengan muka yang sok PD, “iyaa Cit, makasih” kataku dengan polos, akhirnya kami pulang kerumah masing-masing karena cuaca diluar juga sangat panas, dan untungnya hari ini, Hendra lupa tidak memalak uangku hari ini, jadi bisa kenyang makan disekolah.
Sore hari ini terasa membosankan, aku kaget ketika ada seorang perempuan menaiki sepeda berjalan kerumahku, dan ternyata itu Citra, “Han, main sepeda yok?” katanya sambil melambaikan tangan, “ayo, aku juga lagi bosen dirumah” kataku dengan polos, “Farhan! Mau kemana?!” teriak Ibuku, “cari angin Bu!” sautku, Citrapun tertawa kecil karena ulah Ibuku, seperti biasa aku yang memboncengi Citra sambil jalan-jalan memutari dari komplek satu ke komplek yang lainnya, sampai akhirnya kamipun berhenti ditaman. “capek ah, duduk dulu sini” kataku sambil berjalan kearah kursi taman yang memang khusus untuk berdua, “eh Han, lu nanti mau SMAnya dimana si?” kata Citra sambil duduk disebelahku, “paling juga ke SMA satu, emangnya kenapa Cit?” kataku keheranan, “gapapasi, bareng lagi dong kita” jawabnya sambil tersenyum, aku tak membalas senyumannya itu melainkan malah buang muka, “pulang yuk Cit, udah sore banget nih” kataku sambil melihat kelangit. Kami pun pergi dari taman lalu naik sepeda untuk pulang.
Aku tak bisa tidur semalaman karena memikirkan Citra, aku masih heran kenapa dia mau bermain bersamaku? Padalah aku bisa dibilang bukan anak yang pemberani. Keesokan harinya seperti biasa anku berangkat sekolah jalan kaki, tapi anehnya aku tidak bertemu Citra dijalan, padahalkan sudah waktunya berangkat kesekolah, ketika aku menengok kesebelah kiri jalan, kulihat banyak anak laki-laki dari SMPku bergerombol disana. Ternyata disana ada Citra yang sedang berbincang dengan Hendra, entah apa yang Hendra lakukan disana, tapi aku tak berani untuk datang kesana karena takut dipukuli Hendra dan kawan-kawannya, dengan perasaan takut aku berjalan lurus seolah-olah tak tau apa-apa. Ketika digerbang sekolah aku melihat Hendra sedang memboncengi Citra menggunakan sepeda Citra, aku sangat kaget kenapa Hendra bisa memboncengi Citra, padahal Citra juga tidak suka dengan sikapnya. Aku masih bertanya-tanya dalam hati kenapa bisa Hendra memboncengi Citra? Bel istirahat sudah berbunyi, seperti biasa uangku sudah lenyap diambil Hendra, aku hanya bisa diam didepan kelas sambil duduk memandangi pemandangan karena kelasku dilantai dua. Ketika aku duduk santai tiba-tiba ada sebungkus roti jatuh didepan wajahku, “makan tuh, duitlu abis kan?” ketika aku menengok kearah suara tersebut ternyata itu Citra, “yaudah, gua balik lagi kekelas ya” katanya lagi, aku heran kenapa dia memberiku roti ini, tanpa pikir panjang aku makan roti tersebut dengan lahap.
Ketika ditengah jalan setelah pulang sekolah, Citra mendekatiku dengan sepedanya itu, “ayo Han, boncengan lagi” pintanya, “iya iya” jawabku sambil mengangguk, “Cit, kok tadi pagi kamu boncengan sama Hendra?” tanyaku ditengah perjalanan, “pas gua berangkat, ditengah jalan dicegat Hendra sama temen-temennya, terus dia minta bonceng sama gua, gua bingung kok tiba-tiba dia belaga sok sopan kegua, gua juga bingung” jawabnya sambil memegang pundakku, aku tidak melanjutkan pembicaraan karena bingung apa yang akan ditanyakan lagi.
Aku pun lulus SMP dengan nilai yang memuaskan dan begitu pula Citra, Hendra juga lulus, kata teman-temanku Hendra juga akan sekolah diSMA satu, itu yang membuatku tidak enak hati, kenapa harus di SMA satu juga? Bukannya SMA yang lain dan parahnya, Hendra sudah mulai dekat dengan Citra, bahkan kata teman-temanku mereka berdua sudah pacaran? Entah mengapa, tapi rasa-rasanya aku cemburu dengannya, padahal aku yang lebih dulu kenal dengan Citra kenapa mereka yang pacaran? Sejak saat itu, hubunganku dengan Citra sudah tidak akrab seperti biasanya. Ketika masuk SMA, aku menjalani pelajaran seperti anak baru pada umumnya, aku dikelas A berbarengan dengan Citra, sedangkan Hendra dikelas E. Banyak yang berubah dari Citra setelah Citra pacaran dengan Hendra, jarang lagi main kerumah, apalagi mengajakku boncengan dengan sepedanya, tapi sekarang Citra sudah tidak pernah menggunakan sepedanya lagi karena setiap harinya Citra diantar jemput Hendra menggunakan motor barunya Hendra, sedangkan aku berangkat sekolah menggunakan sepeda yang baru dibelikan ayah tahun lalu.
Hari minggupun tiba, bosan dirumah aku lari pagi keluar untuk mencari keringat, kulihat dijalan Citra dan Hendra sudah lari lebih dulu didepan sana, aku tak berani mendekatinya, jadi aku hanya mengikuti dari jauh. Kulihat dari jauh, sepertinya mereka berdua sedang bertengkar, entah apa yang mereka berdua bahas, tapi kelihatannya sangat serius. Ketika mereka berdua didekat taman, kulihat Citra berhenti berlari tetapi Hendra meninggalkannya, taman itu adalah taman tempat biasa aku dan Citra bermain dulu ketika SMP, saat Hendra sudah tidak terlihat, akupun menghampiri Citra yang terlihat menangis ditaman, “kamu kenapa Cit?” kataku sambil duduk disebelahnya, “emang gua egois yaa?! Emang gua bisanya Cuma ngeganggu?!” kata Citra sambil menangis, “emang masalahmya apa Cit? kok sampe kamu dibilang egois?” kataku sambil memberikan handuk kecil untuk mengusap air matanya, “guakan nanti ada acara keluarga, jadi gak bisa ikut Hendra jalan-jalan, tapi gua udah terlanjur janji sama Hendra, gimana ni Han?” katanya sambil mengusap air matanya, “ah masa gitu aja bingung, segala nangis lagi, katanya juara silat? Masa kaya gitu aja nangis, cengeng lah kau” kataku sambil bercanda, Citrapun juga tertawa mendengar kata-kataku barusan, lalu aku mengantar Citra sampai rumahnya karena Citra memintaku untuk menemaninya, “mampir dulu Han!” kata Citra, “gausah Cit, kapan kapan aja” jawabku.
Keesokan harinya ketika aku dikelas Hendra datang kekelasku sambil bertiriak memanggil-manggil namaku, “mana Farhan! Mana Farhan!” teriaknya, “iya Dra kenapa?” kataku sambil ketakutan, “ngapain lu kemaren nyamperin si Citra hah? Elu mau nyari perkara sama gua hah?” katanya sambil menarik kerah bajuku, “enggak gitu Dra, cumaa..”,”Cuma apa? Awaslu deketin Citra lagi gua gebukin lu!” kata Hendra setelah memotong pembicaraanku, lalu Hendra pergi meninggalkanku dikelas.
Semua mata tertuju padaku, aku sangat malu saat itu, untungnya Citra sedang dikantin dan mengetahui tentang kejadian tadi. Aku menjadi bahan gosipan teman-teman satu sekolah, dan akhirnya gossip tersebut sampai ditelinga Citra. Citra sangat marah mendengar hal tersebut, Citra pun mendatangi Hendra kekelasnya, “lu apain tadi si Farhan?” kata Citra sambil teriak kearah Hendra, “kok lu jadi nyolot ke gua si? Siapa yang ngajarin! Siapa yang ngajarin!! Pasti Farhan ya?!” katanya sambil menjulurkan jari telunjuknya kearah muka Citra, “dia gak ngapa-ngapain gua kok! Malah dia yang nenangin gua pas nangis ditaman gara-gara lu” kata Citra sambil memukul tangan Hendra kearah bawah, semua orang dikelas pun terpana melihat Citra dan Hendra yang sedang bertengkar, “biarin aja semua orang tau kalo lu sifatnya kaya bajingan! Mending gua pacaran sama Farhan dari pada pacaran sama bajingan kaya elu, mulai sekarang kita putus!” kata Citra lalu meninggalkan Hendra, aku hanya bisa mengintip kejadian tadi didekat jendela, aku tak menyangka kalau Citra akan berkata seperti itu, apalagi ketika Citra menyebut-nyebut namaku tadi, semua orang disana terlihat keheranan.
Keesokan harinya aku agak ragu untuk berangkat kesekolah, seperti biasa aku menaiki sepedaku, ketika aku melewati komplek rumahnya Citra, aku melihat Citra berangkat sekolah menaiki sepeda yang dulu sering dia pakai, “Cit! Cita!” teriakku, “eh elu Han, baru berangkat Han? Kita bareng aja ya” jawabnya sambil menggoes menghampiriku, “ayok ayok” balasanku padanya. Kamipun berangkat seperti biasa, sampai akhirnya sampai disekolah, aku melihat Hendra sedang melihat kearahku dan Citra, tapi aku hanya pura-pura tidak mengetahuinya hingga akhirnya kami berdua sampai dikelas.
Sebenarnya aku dan Hendra adalah sahabat ketika SD kami selau bermain bersama, bahkan sering menginap dirumahku kadang juga menginap dirumahnya, orang tua kami juga akrab karena ayahku dan ayahnya Hendra kerja disatu kantor dan dibidang yang sama. Aku dan Hendra sudah layaknya seperti kakak-adik karena hamper setiap harinya kami ber main bersama, tetapi semua berubah ketika kami masuk SMP, Hendra sering ikut teman-temannya melakukan hal yang menyimpang, sejak aku tau dia menjadi anak yang nakal, aku mengingatkannya kalau apa yang dia lakukan itu tidak benar, tapi Hendra malah memukuli dan berkata kalau aku jangan lagi dekat-dekat dengannya. Sejak saat itu kami tidak pernah lagi bermain bersama, aku tak berhasil mengajaknya kembali kejalan yang benar, aku sangat menyesal karena tidak bisa mengingatkannya, aku takut jika aku mengingatkannya nanti aku akan dipukulinya seperti dulu, itu yang membuatku tidak berani melawannya. Sejak Hendra tidak bermain denganku, dia semakin punya banyak teman yang kelakuannya sangat menyimpang, sebenarnya sayang kalau aku hanya membiarkan Hendra berkelakuan seperti itu karena Hendra dulu orangnya sangat sopan dan tidak menyakiti satu sama lain.
Kamipun lulus SMA, aku kuliah diUniversitas yang paling dekat dengan rumahku, Citra juga bareng denganku, tapi kami beda jurusan, aku ambil Fisika sedangkan Citra ambil Sejarah. Hendra tidak melanjutkan keperguruan tinggi, dia hanya menganggur dan sering kumpul-kumpul dengan geng motornya. Entah mengapa, Hendra masih saja suka menggangguku ketika pulang kampus bersamaan dengan geng motornya, sepertinya Hendra masih menyukai Citra. Hendra selalu memaksa Citra untuk pulang diantar olehnya, dan meninggalkanku dengan tatapan yang sangat tidak mengenakkan, mungkin Hendra benci denganku karena kejadian saat SMA dulu. Aku masih akrab dengan Citra, malah sekarang sudah mulai romantis, sering jalan bareng saat malem minggu, Citra juga kelihatannya sudah mulai suka denganku.
Malam minggu ini aku datang kerumah Citra, dan mengajaknya jalan-jalan, “cari makan aja yuk Han?” kata Citra kepadaku, “ayo makan bakso ditaman kaya biasa yaa” jawabku. Kamipun berangkat ketaman menggunakan sepeda, bukannya aku tidak ingin mengajaknya menggunakan motor, tapi aku sengaja agar kami terlihat romantis, sepedaku ditinggal dirumah Citra, kami boncengan menggunakan sepedanya. “bakso dua bang!” kata Citra ketukang bakso langganan kami, kami saling berbincang sambil menunggu bakso siap dimakan. Sambil mencari kesempatan, aku menyuapi Citra dengan bakso milikku, Citra menyautinya dengan senang hati, kami terlihat seperti orang pacaran saat itu, dan ketika kami selesai makan bakso kami pun membayar lalu berjalan kearah sepeda, “Cit kitakan udah lama kenal, kita sering jalan bareng, main bareng udah kaya pasangan romantis, kamu mau gak jadi pacarku?” kataku sedikit malu dan ragu, “maaf tapii… tapi aku gak bisa” kata Citra dengan muka pasrah, kata-katanya membuatku tidak bisa bernafas seketika, “gak bisa nolak Han” lanjutnya sambil menatapku, sontak aku langsung tarik nafas panjang-panjang, aku tak menyangka kalau Citra akan menerima cintaku.
Keesokan harinya aku berangkat kekampus bersama dengan Citra, entah dapat kabar dari mana, Hendra mengetahui kalau aku sudah pacaran dengan Citra. Ketika aku pulang dari kampus, ditengah jalan aku dicegat Hendra menggunakan motor kesayangannya, “lu pacaran yaa sama Citra?!” katanya dengan tatapan tajam kearahku, “ii..iiyaa Dra, kenapa?” jawabku sambil ketakutan, “gua minta lu jauhin si Citra!” katanya, lalu hendra memukuliku sampai aku babak belur, ditengah jalan aku sangat kesakitan hingga akhirnya Citra menyusulku dari belakang, “kamu kenapa Han? Kok babak belursi? Kamu kenapa?” katanya keheranan, “tadi aku dicegat Hendra, katanya aku disuruh jauhin kamu, dan gak boleh lagi deket-deket lagi sama kamu” jawabku dengan jujur. Aku tak menghiraukan perkataan Hendra tadi, aku pulang dengan Citra karena tidak kuat menggoes sepeda sendiri.
Kejadian tersebut tidak membuatku kehilangan Citra, malah kami semakin romantis. Ketika malam minggu, aku dan Citra seperti biasa akan makan bakso ditaman, tapi ditengah jalan kami melihat Hendra sedang balapan liar dengan teman-temannya, dan tak kusangka Hendra jatuh dari motor karena tidak seimbang. Semua temannya langsung kabur, kami menggunakan sepeda lamgsung menghampiri Hendra.
Darah bercucuran dimana-mana, Hendrapun tidak sadar dengan kejadian ini, motornya pun hancur. Tanpa pikir panjang, aku langsung menaikkan hendra dibelakang sepeda, dengan darah yang sangat banyak membasahi bajuku dan juga Citra. Hendra kunaikkan dibangku belakang dipegangi dengan Citra, aku menggoesnya sampai puskesmas terdekat, bukannya kami tidak bisa menelpon rumah sakit, tapi karena kami berdua tidak bawa handphone, untungnya kami tidak telat mengantar Hendra kerumah sakit, jika kami telat maka Hendra mungkin sudah tidak selamat.
Tiga hari Hendra baru siuman. Ketika Hendra siuman, aku dan Citra langsung berangkat untuk menjenguknya, Hendra mengalami patah kaki dan sobek dibagian kepala. Ketika kami sampai ditempat istirahatnya Hendra, kami langsung menghampirinya, “makasih yaa Han, kalo kagak ada lu pasti gua udah mati sekarang” katanya dengan mata berkaca-kaca, “sama-sama Dra, kamukan temen baik dari kecil, jadi sesame teman kita harus saling tolong menolong” jawabku dengan senyum lebar, “maafin semua kesalahan gua ya Han, elu rela nganterin gua kesini pake sepeda, tapi gua malah sering nyelakain elu Han, gua minta maaf ya” katanya dengan wajah kecewa, “iyaa aku maafin kok Dra, aku juga gak sendiri kok Dra, kan juga ada Citra dan aku juga nganternya pake sepedanya Citra” kata sambil melihat Citra, “iyaa makasih juga ya Cit, atas semua pertolongan lu, makasih juga sama sepeda lu, itu kayanya emang sepeda pembawa berkah deh Cit” kata Hendra sedikit Bercanda, “iya gapapakok Dra, gua juga ikhlas kok nolonginnya. Kalo soal sepeda si emang kayanya pembawa berkah deh” kata Citra juga bercanda, “yaudah sekarang kalian sudah bebas dari gua, gua gak bakalan ganggu kalian lagi, jadi gausah khawatir kalo gua ganggu lagi” kata Hendra dengan muka polos.
Akhirnya aku dan Hendra sudah berteman seperti dulu lagi, dan kedekatan ku dengan Citra mulai serius, rencananya aku dan Citra akan menikah bulan depan dan semua terjadi akibat sepeda Citra dari kami pertama kenal hingga saat ini.
Amanat : Seburuk apaan temanmu, sejahat apapun temanmu pada, dia tetaplah temanmu, bantulah dia jika dia kesusahan karena sesungguhnya awal yang baik akan berakhir dengan baik pula.
TAMAT
Download dokumen asli : SEPEDA CITRA
No comments:
Post a Comment